Karawo Ikat Gorontalo Jaga Budaya dan Gerakkan Ekonomi Lokal

Karawo ikat menjadi salah satu kerajinan khas Gorontalo yang tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Proses pembuatannya yang seluruhnya dilakukan secara manual membuat kain ini membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu yang panjang.

Dalam pengerjaannya, serat kain terlebih dahulu diiris dan dicabut satu per satu untuk menyediakan ruang bagi benang. Setiap benang kemudian diarahkan secara hati-hati mengikuti pola yang telah ditentukan. Satu lubang pada kain bahkan dapat dilewati benang beberapa kali sebelum diikat hingga membentuk motif tertentu.

Seluruh tahapan tersebut dilakukan dengan tangan. Karena itu, kesalahan kecil dalam proses pengerjaan dapat memengaruhi pola dan hasil akhir kain. Lamanya proses juga menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan keberadaan perajin karawo.

Karawo sendiri merupakan sulaman tangan khas Gorontalo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Di daerah tersebut dikenal dua teknik utama, yakni karawo ikat dan karawo manila, yang memiliki perbedaan dalam proses pengerjaannya.

Salah satu perajin, Erawati Bouta, telah mengenal karawo ikat sejak masih kecil. Ia mempelajari keterampilan tersebut dari keluarganya di rumah. Namun, Erawati baru mulai menekuni karawo secara lebih serius pada 2019 dengan tujuan menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus menciptakan sumber pendapatan.

Pada 2023, aktivitas tersebut mulai dikembangkan menjadi usaha. Saat ini, empat perajin mengerjakan karawo ikat di rumah Erawati yang berada di Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Sebagian besar perajin tersebut sudah berusia lanjut.

Proses produksi menjadi tantangan tersendiri karena satu kain karawo ikat membutuhkan waktu cukup lama. Jika dikerjakan hampir sepanjang hari, satu kain dapat diselesaikan sekitar satu bulan. Namun, apabila pengerjaan dilakukan sambil menjalankan aktivitas lain, waktunya bisa mencapai tiga bulan.

Lamanya pengerjaan membuat profesi perajin karawo tidak banyak diminati. Selain membutuhkan keterampilan dan konsentrasi tinggi, waktu produksi yang panjang belum selalu sebanding dengan pendapatan yang diterima.

Erawati saat ini memberikan upah sekitar Rp400.000 hingga Rp450.000 untuk pengerjaan satu lembar kain. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian karawo membutuhkan dukungan yang tidak hanya berorientasi pada budaya, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi bagi para perajinnya.

Website |  + posts