
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau pada akhir perdagangan sesi I, Senin (13/7/2026). Meski bergerak volatil sepanjang sesi, indeks ditutup menguat 0,11 persen di tengah sikap hati-hati investor dalam mencermati berbagai sentimen domestik dan global.
Pergerakan IHSG berlangsung fluktuatif sejak pembukaan perdagangan. Indeks sempat mengalami perubahan arah seiring aksi beli dan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Namun, tekanan tersebut belum cukup membawa indeks ke zona merah hingga penutupan sesi pertama.
Volatilitas pasar terjadi ketika investor masih mencermati perkembangan global, terutama eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi memberikan dampak berbeda terhadap masing-masing sektor di pasar saham, mulai dari menjadi katalis bagi emiten energi hingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya operasional perusahaan.
Selain faktor geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada arus dana investor asing. Pada sesi I perdagangan yang sama, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell. Tekanan jual tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan indeks meskipun IHSG masih mampu bertahan di teritori positif.
Sentimen terhadap pasar modal Indonesia juga masih dipengaruhi keputusan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan atau watchlist. Meski status Indonesia belum berubah dari emerging market, pelaku pasar terus mencermati langkah otoritas dalam meningkatkan transparansi dan kualitas pasar modal domestik.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, kemampuan IHSG bertahan di zona hijau menunjukkan adanya dukungan beli pada sejumlah saham. Namun, pergerakan indeks yang volatil juga mencerminkan bahwa investor belum sepenuhnya agresif dalam mengambil posisi.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perdagangan sesi kedua untuk melihat apakah penguatan dapat dipertahankan hingga penutupan. Pergerakan saham berkapitalisasi besar, arus dana asing, perkembangan geopolitik, dan sentimen pasar global diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG.
