PT Semen Gresik mendorong pemakaian material konstruksi dengan emisi lebih rendah sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan sekaligus tuntutan untuk menekan dampak lingkungan dari sektor konstruksi.
Direktur Utama PT Semen Gresik Gatot Mardiana mengatakan transformasi menuju industri hijau perlu diterapkan secara menyeluruh, mulai dari proses manufaktur hingga pengembangan produk dan solusi untuk kebutuhan konstruksi.
Menurut Gatot, perusahaan memandang konsep industri hijau sebagai bagian dari perubahan model bisnis untuk menciptakan nilai dalam jangka panjang. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.
Salah satu upaya yang dilakukan Semen Gresik adalah mengembangkan produk semen hijau dengan tingkat intensitas emisi hingga 28 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional pada umumnya.
Penerapan prinsip tersebut juga dilakukan di fasilitas produksi Semen Gresik Pabrik Rembang. Efisiensi pemakaian sumber daya dan pengurangan jejak karbon menjadi bagian dari proses produksi maupun pengembangan produk.
Perusahaan juga memanfaatkan pendekatan ekonomi sirkular melalui penggunaan sejumlah bahan alternatif dalam proses manufaktur. Material yang digunakan antara lain Refuse-Derived Fuel (RDF), limbah industri, serta biomassa sebagai sumber bahan bakar alternatif.
Untuk memperluas penerapan material ramah lingkungan, Semen Gresik bekerja sama dengan Green Building Council Indonesia (GBCI). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan penggunaan material bangunan yang mendukung konsep konstruksi rendah emisi.
Chairperson Green Building Council Indonesia Ignesjz Kemalawarta mengatakan pembangunan gedung hijau membutuhkan pendekatan yang mencakup berbagai aspek. Hal tersebut meliputi kebijakan, perancangan, kinerja bangunan, hingga pemilihan material.
Menurutnya, sektor bangunan dan properti memiliki peran dalam pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060. Karena itu, inovasi dan kerja sama di berbagai mata rantai industri diperlukan agar penerapan pembangunan rendah karbon dapat semakin luas.
Intan Permata adalah kontributor di Warta Independen yang fokus pada berita hiburan, gaya hidup, dan isu sosial. Ia menghadirkan konten yang informatif, ringan, dan mudah dipahami oleh pembaca.
