
Paris Saint-Germain mendapat sambutan dan penghormatan meriah di Paris setelah berhasil menjuarai UEFA Champions League untuk kedua kalinya secara beruntun. Ribuan hingga puluhan ribu pendukung memadati kawasan sekitar Menara Eiffel dan Champ-de-Mars untuk merayakan keberhasilan klub kebanggaan ibu kota Prancis tersebut.
Namun suasana perayaan itu dibayangi kerusuhan yang terjadi di sejumlah wilayah Paris dan kota-kota lain di Prancis. Bentrokan, aksi vandalisme, pembakaran kendaraan, serta gangguan ketertiban umum menyebabkan ratusan orang ditangkap dan puluhan aparat keamanan mengalami luka-luka.
Pemerintah Prancis mengerahkan puluhan ribu personel keamanan untuk mengendalikan situasi dan mencegah meluasnya gangguan selama perayaan kemenangan PSG.
Emmanuel Macron turut memberikan penghormatan kepada para pemain PSG, tetapi pada saat yang sama mengecam keras aksi kekerasan yang mencoreng momen bersejarah tersebut. Ia menilai kerusuhan yang terjadi tidak mencerminkan nilai sportivitas dan semangat olahraga.
Kerusuhan pascaperayaan kemudian memicu perdebatan politik di Prancis. Sejumlah politisi mengkritik penanganan keamanan pemerintah dan menyerukan langkah yang lebih tegas terhadap pelaku kekerasan. Di sisi lain, beberapa pihak menilai insiden tersebut juga mencerminkan persoalan sosial yang lebih luas di masyarakat.
Pengamat politik Prancis menilai peristiwa ini kembali membuka diskusi mengenai keamanan publik, kebijakan penegakan hukum, serta tantangan sosial yang dihadapi kota-kota besar di negara tersebut.
Meski demikian, sebagian besar perayaan berlangsung damai dan dipenuhi antusiasme pendukung yang ingin merayakan pencapaian bersejarah PSG di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa.
Keberhasilan PSG mengangkat trofi Liga Champions tetap menjadi momen penting bagi sepak bola Prancis, meski dampak kerusuhan yang menyertainya diperkirakan akan terus menjadi bahan perdebatan politik dalam waktu dekat.
